KEPAHIANG – Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Kabupaten Kepahiang masih menyimpan berbagai tradisi kebersamaan yang sederhana, tetapi memiliki cerita dan keseruan tersendiri. Salah satunya adalah “Puk Monok Mai Bioa”, tradisi masyarakat Rejang Kepahiang yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “cuci ayam ke sungai.”
Tradisi ini biasanya dilakukan setelah penyembelihan ayam atau kambing dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti pesta pernikahan, acara doa, maupun kegiatan adat dan kekeluargaan lainnya.
Bagi kaum laki-laki, kegiatan tersebut bukan sekadar mencuci atau membersihkan bahan makanan. Puk Monok Mai Bioa menjadi momen gotong royong yang mempertemukan banyak warga sekaligus mempererat hubungan antarsesama.
Setelah ayam dipotong dan bagian-bagian yang diperlukan dipisahkan, para lelaki biasanya membawa ayam dan bagian “Tenei Monok”, atau jeroan ayam, menuju sungai untuk dibersihkan.
Yang membuat tradisi ini semakin menarik adalah suasana kebersamaannya.
Rombongan biasanya berangkat bersama-sama menggunakan mobil pikap. Satu kendaraan bisa dipenuhi warga yang membawa perlengkapan dan hasil sembelihan. Perjalanan menuju sungai pun menjadi bagian tersendiri dari keseruan tradisi tersebut.
Sesampainya di sungai, pekerjaan dilakukan secara bersama-sama. Ada yang membersihkan ayam, ada yang mencuci jeroan, sementara yang lainnya membantu mempersiapkan kebutuhan.
Di sisi lain, anak-anak biasanya sudah menunggu dengan penuh antusias.
Bagi mereka, kegiatan Puk Monok Mai Bioa bukan hanya tentang membantu orang tua. Ada keseruan tersendiri ketika mereka ikut bermain di sekitar sungai dan berebut mendapatkan telur ayam yang terkadang ditemukan saat proses membersihkan ayam.
Jika sedang beruntung, seorang anak bisa membawa pulang telur yang didapatnya. Hal sederhana seperti itu justru menjadi kenangan masa kecil yang sulit dilupakan.
Bukan Sekadar Cuci Ayam
Lebih dari sekadar aktivitas membersihkan ayam di sungai, Puk Monok Mai Bioa mencerminkan semangat gotong royong masyarakat Kepahiang.
Tidak ada pembagian pekerjaan yang rumit. Semua dilakukan bersama-sama. Sambil bekerja, warga bisa bercanda, berbincang dan saling berbagi cerita.
Tradisi ini juga menjadi ruang interaksi lintas generasi. Orang tua, pemuda hingga anak-anak dapat berkumpul dalam satu kegiatan yang sama.
Kini, ketika banyak aktivitas masyarakat mulai bergeser ke cara yang lebih praktis, Puk Monok Mai Bioa menjadi salah satu tradisi sederhana yang menarik untuk terus dikenang dan diperkenalkan kepada generasi muda.
Sebab, yang dibawa pulang dari sungai bukan hanya ayam yang sudah bersih, tetapi juga cerita, tawa, kebersamaan dan nilai gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Rejang di Kepahiang.
Puk Monok Mai Bioa—sederhana kegiatannya, tetapi besar maknanya bagi kebersamaan.

